Vios masuk bengkel Tidar Motor kemaren. Ada lecet-lecet dikit yang masih dalam tanggungan asuransi Garda Oto. Kemungkinannya seminggu. Mulai pake Terios kemaren, thanks to my wife. Tapi, kemaren petang, setelah pulang kantor lalu nganter Nadya fotokopi buku musik, bensinnya tinggal 2 bar.
Jadi pagi tadi ke Shell lagi. Dan ngisi tekanan angin ban lagi. Tapi kali ini bisa merhatiin dengan lebih teliti. Hasilnya: semua ban yang seharusnya 2.20 ternyata semuanya 1.70 kecuali ban depan kanan yang 1.60, sehingga ditambah 0.60. Kalo sekali cycle dari posisi bensin tinggal 2 bar ke posisi diisi bensinnya lagi full tank adalah sekitar 400 km, dan satu cycle itu pula ban depan kanan berkurang tekanan anginnya sekitar 0.20 dari kondisi awal 2.20, berarti sudah dua kali isi bensin lewat tanpa tambah tekanan angin ban.
Dan, berkurangnya tekanan angin ban depan kanan adalah lebih banyak sekitar 0.10 dibandingkan dengan ban-ban yang lain, sebuah pola yang wajar karena baik Vios maupun Terios lebih sering dikendarai sendirian, dengan driver seat lebih dekat ke posisi ban depan kanan.
Senin, 14 September 2015
Sabtu, 12 September 2015
Google Translate
Pertama, saya adalah penggemar Google Translate. Dan sangat memanfaatkannya untuk menerjemahkan kata-kata berbahasa Inggeris ke bahasa Indonesia. Atau, sebaliknya. Kalo ada yang terjemahannya tidak pas, saya berkontribusi ke Google, memasukkan terjemahan versi saya, yang menurut saya lebih pas, selain juga bisa membantu lebih banyak untuk lebih menikmati terjemahan yang pas dari Google Translate.
Kedua, saya suka sebel dengan modem yang hobi ngadat. Lalu laptop saya memanfaatkan portable Wi-Fi hotspot dari gadget Samsung saya. Ini pun sesekali masih ngadat. Jadi saya juga selalu siap tablet juga, dengan Google Translate sudah ter-install di dalamnya, untuk jaga-jaga.
Ketiga, jangan takut untuk berasumsi. Ketika saya ingin tahu arti dari retained earnings, Google Translate menampilkan 'keuntungan diperoleh' yang membuat saya mengernyitkan dahi. Asumsi saya, harusnya artinya adalah 'laba ditahan'. Lalu saya balik arah translasinya, dan saya masukkan 'laba ditahan'. Sekarang, Google Translate menampilkan retained earning sebagai terjemahannya. Hahaha, Google Translate masih oke. Saya masih suka. Pintar-pintarnya kita aja memanfaatkannya.
Kedua, saya suka sebel dengan modem yang hobi ngadat. Lalu laptop saya memanfaatkan portable Wi-Fi hotspot dari gadget Samsung saya. Ini pun sesekali masih ngadat. Jadi saya juga selalu siap tablet juga, dengan Google Translate sudah ter-install di dalamnya, untuk jaga-jaga.
Ketiga, jangan takut untuk berasumsi. Ketika saya ingin tahu arti dari retained earnings, Google Translate menampilkan 'keuntungan diperoleh' yang membuat saya mengernyitkan dahi. Asumsi saya, harusnya artinya adalah 'laba ditahan'. Lalu saya balik arah translasinya, dan saya masukkan 'laba ditahan'. Sekarang, Google Translate menampilkan retained earning sebagai terjemahannya. Hahaha, Google Translate masih oke. Saya masih suka. Pintar-pintarnya kita aja memanfaatkannya.
Brigham vs. Ross
DR. Yohanes sangat piawai, tidak hanya di bidang kenotariatan, tapi juga di bidang perilaku organisasi, dan juga manajemen keuangan. Yang saya suka juga, agility beliau sehingga ketika DR. Dion sedang terjebak kabut asap di Pontianak - asap tebel yang tidak acceptable - Pak Yohanes bisa segera meluncur mengisi kelas yang kosong. Mengingatkan saya pada Henry van Nguyen, seorang manajer IT yang saya 'tembak' untuk mengisi sebuah sesi untuk manajer on the spot padahal di sesi itu sebenarnya dia diundang sebagai participant.
Kemaren beliau mengupas soal future values, net present values, internal rate of return, lengkap juga dengan annuity-nya. Buku yang dijadikan referens adalah buku dari Ross dan Westerfield, terutama di bagian mathematical tables-nya. Sampai-sampai, di sela-sela break, saya dan Pak Dani berkolaborasi untuk men-scan tabel-tabel tersebut.
Masih terkesan dengan buku dari Ross, saya coba download buku tersebut dan berhasil! Begitu senangnya hati saya! Dan ketika ada masalah yang terkait dengan cost of capital dan WACC, saya manfaatkan buku Ross, dan hasilnya, mentok!
Well, untuk masalah-masalah tadi, buku referens yang tepat adalah buku dari Brigham. Ini mengingatkan saya untuk menyadari bahwa best practice itu lihat-lihat dulu masalahnya apa. Sekaligus, mengingatkan saya juga supaya open-mindedness ini tetap dipelihara.
Kemaren beliau mengupas soal future values, net present values, internal rate of return, lengkap juga dengan annuity-nya. Buku yang dijadikan referens adalah buku dari Ross dan Westerfield, terutama di bagian mathematical tables-nya. Sampai-sampai, di sela-sela break, saya dan Pak Dani berkolaborasi untuk men-scan tabel-tabel tersebut.
Masih terkesan dengan buku dari Ross, saya coba download buku tersebut dan berhasil! Begitu senangnya hati saya! Dan ketika ada masalah yang terkait dengan cost of capital dan WACC, saya manfaatkan buku Ross, dan hasilnya, mentok!
Well, untuk masalah-masalah tadi, buku referens yang tepat adalah buku dari Brigham. Ini mengingatkan saya untuk menyadari bahwa best practice itu lihat-lihat dulu masalahnya apa. Sekaligus, mengingatkan saya juga supaya open-mindedness ini tetap dipelihara.
Bahaya Menyepelekan Bahasa Inggeris
Saya tidak tahu kenapa saya sejak SMP menyukai bahasa Inggeris. Sehingga nilai bahasa Inggeris di rapor selalu 9, baik di SMP maupun di SMA. Lalu saat kuliah, kurikulumnya memuat dua matakuliah Bahasa Inggeris I dan Bahasa Inggeris II, dan seperti sudah bisa diduga, saya mendapatkan nilai A untuk kedua matakuliah tersebut. Setelah jadi sarjana teknik kimia, bekerja di industri, kantor mempersyaratkan nilai test of English for international communication (TOEIC) tertentu untuk posisi manajerial tertentu. Skor terakhir saya, di International Test Center, Plaza Sudirman, 950. Masih ada gap 40 untuk mencapai skor maksimum 990. Apakah bahasa Inggeris itu penting?
Sangat. Sangat penting. Banyak contohnya. Ini saya mau cerita soal orang lain aja dulu. Ketika ada salah satu dari dua calon manajer yang akan dinominasikan ikut event di tingkat regional, maka yang dipilih berangkat ke luar negeri saat itu adalah murni didasarkan oleh skor TOEIC-nya. Ketika ada dua engineers yang akan berangkat ke Swiss untuk mengikuti suatu program pengembangan profesi, dua-duanya tidak jadi berangkat karena skor TOEIC-nya kurang dari 550. Bahkan, di perusahaan, ada lulusan Sastra Inggeris yang karirnya lebih melejit dibandingkan dengan lulusan ITB. Sampai-sampai ada guyonan di kantor, asal perguruan tinggi tidak penting, yang penting jurusannya Sastra Inggeris!
Bagaimana dengan saya sendiri? Terlalu banyak yang ingin saya ceritakan sampai saya sendiri bingung mau mulai dari mana. Termasuk, menurut saya, kesempatan yang luar biasa sehingga saya bisa melakukan perjalanan dinas ke beberapa negara di Asia dan Eropa. Tapi, ini ada satu yang ingin saya share, yang benar-benar saya rasakan saat ini. Yaitu, terbuka lebarnya pintu pengetahuan. Banyak buku-buku yang bagus, termasuk text books, dalam bahasa Inggeris. Masih sangat minim, menurut saya, interpretasi dari buku-buku canggih tersebut ke dalam buku berbahasa Indonesia, yang memuaskan selera belajar kita, yang merangsang otak kita untuk mencerna, yang membantu kita memahami permasalahannya secara lebih baik.
Ingin memahami masalah secara lebih baik? Ingin menemukan solusi dari permasalahan yang ada? Jawabannya sering tersedia di buku-buku berbahasa Inggeris. Masih mau menyepelekan bahasa Inggeris?
Sangat. Sangat penting. Banyak contohnya. Ini saya mau cerita soal orang lain aja dulu. Ketika ada salah satu dari dua calon manajer yang akan dinominasikan ikut event di tingkat regional, maka yang dipilih berangkat ke luar negeri saat itu adalah murni didasarkan oleh skor TOEIC-nya. Ketika ada dua engineers yang akan berangkat ke Swiss untuk mengikuti suatu program pengembangan profesi, dua-duanya tidak jadi berangkat karena skor TOEIC-nya kurang dari 550. Bahkan, di perusahaan, ada lulusan Sastra Inggeris yang karirnya lebih melejit dibandingkan dengan lulusan ITB. Sampai-sampai ada guyonan di kantor, asal perguruan tinggi tidak penting, yang penting jurusannya Sastra Inggeris!
Bagaimana dengan saya sendiri? Terlalu banyak yang ingin saya ceritakan sampai saya sendiri bingung mau mulai dari mana. Termasuk, menurut saya, kesempatan yang luar biasa sehingga saya bisa melakukan perjalanan dinas ke beberapa negara di Asia dan Eropa. Tapi, ini ada satu yang ingin saya share, yang benar-benar saya rasakan saat ini. Yaitu, terbuka lebarnya pintu pengetahuan. Banyak buku-buku yang bagus, termasuk text books, dalam bahasa Inggeris. Masih sangat minim, menurut saya, interpretasi dari buku-buku canggih tersebut ke dalam buku berbahasa Indonesia, yang memuaskan selera belajar kita, yang merangsang otak kita untuk mencerna, yang membantu kita memahami permasalahannya secara lebih baik.
Ingin memahami masalah secara lebih baik? Ingin menemukan solusi dari permasalahan yang ada? Jawabannya sering tersedia di buku-buku berbahasa Inggeris. Masih mau menyepelekan bahasa Inggeris?
Bondholders
Jika kita lihat dictionary, maka kata bond berarti 'obligasi', dan hold berarti 'memegang'. Dengan demikian, bondholder berarti pemegang obligasi.
Ketika membahas tentang kenaikan suku bunga (interest rates), yang merupakan salah satu dari dua faktor paling penting di luar kendali langsung perusahaan selain tarif pajak (tax rates) yang mempengaruhi WACC, maka biaya utang meningkat karena perusahaan harus membayar lebih kepada bondholders.
Menginterpretasikan bondholder di sini butuh kehati-hatian. Tidak bisa kita artikan sebagai 'pemegang obligasi'. Interpretasi yang tepat adalah 'pemilik obligasi'. Mengapa? Karena bisa saja Anda adalah pemilik obligasi, tapi ketika Anda menunjukkannya ke saya, lalu saya 'memegang' obligasi tersebut, maka saya juga berhak dibayar oleh perusahaan. Istri atau suami Anda, ayah ibu kandung atau mertua Anda, anak-anak Anda, jika mereka juga 'memegang' obligasi Anda, maka mereka juga berhak dibayar oleh perusahaan.
Tulisan ini bisa dipersepsi sebagai artikel humor atau lucu-lucuan. It's possible. Dimaklumi. At the same time, jika kita pay attention to proper interpretation, maka isi tulisan ini berhak mendapat tempat di best practice forum. Karena bisa membuat kita terhindar dari kesalahpahaman yang tidak perlu.
Kamis, 10 September 2015
Tekanan Angin Ban Mobil
Tidak semua mobil dilengkapi dengan indikator tekanan angin ban mobil. Jadi kita tidak selalu tahu, berapa persisnya tekanan angin ban mobil kita.
Beberapa hari yang lalu, saat mengisi bensin di Shell TB Simatupang, saya tertarik untuk dibantu petugas Shell memeriksa tekanan angin keempat ban mobil saya. Standar pabrik yang tercantum di dekat seat belt pengemudi adalah 220 kPa. Atau sama dengan 2.20 bar. Ternyata, ban kiri belakang saya tekanannya hanya sekitar 1 bar! Setelah mengisi bensin full tank, saya berniat untuk memeriksa tekanan ban kembali saat pengisian bensin berikutnya.
Karena tadi pagi indikator bensin sudah dua bar (yang ini bar yang lain, tidak ada hubungannya dengan pengukuran tekanan, tapi bar yang artinya "batang"; jika bensinnya full tank, indikatornya menunjukkan 8 bar). Kali ini di Shell Alternatif Cibubur. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tekanan angin ban bervariasi antara 2.10 dan 2.00. Saat ini saya sudah lupa ban yang mana yang 2.10 dan yang mana yang 2.00 tapi saat isi bensin berikutnya nanti saya tertarik untuk pay attention juga tentang hal ini untuk mengidentifikasi apakah ada pola yang bisa dipelajari. Dugaan saya sih yang 2.00 itu yang ban sebelah kanan, terutama kanan depan, karena saya biasa nyetir sendirian. Menarik untuk mempelajari apa yang akan terjadi saat pengisian bensin berikutnya!
Beberapa hari yang lalu, saat mengisi bensin di Shell TB Simatupang, saya tertarik untuk dibantu petugas Shell memeriksa tekanan angin keempat ban mobil saya. Standar pabrik yang tercantum di dekat seat belt pengemudi adalah 220 kPa. Atau sama dengan 2.20 bar. Ternyata, ban kiri belakang saya tekanannya hanya sekitar 1 bar! Setelah mengisi bensin full tank, saya berniat untuk memeriksa tekanan ban kembali saat pengisian bensin berikutnya.
Karena tadi pagi indikator bensin sudah dua bar (yang ini bar yang lain, tidak ada hubungannya dengan pengukuran tekanan, tapi bar yang artinya "batang"; jika bensinnya full tank, indikatornya menunjukkan 8 bar). Kali ini di Shell Alternatif Cibubur. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tekanan angin ban bervariasi antara 2.10 dan 2.00. Saat ini saya sudah lupa ban yang mana yang 2.10 dan yang mana yang 2.00 tapi saat isi bensin berikutnya nanti saya tertarik untuk pay attention juga tentang hal ini untuk mengidentifikasi apakah ada pola yang bisa dipelajari. Dugaan saya sih yang 2.00 itu yang ban sebelah kanan, terutama kanan depan, karena saya biasa nyetir sendirian. Menarik untuk mempelajari apa yang akan terjadi saat pengisian bensin berikutnya!
Langganan:
Komentar (Atom)